10 Feb 2026 · 14 menit baca
Dalam industri tekstil dan garment, pemilihan benang bukan sekadar soal bahan, tetapi menyangkut kualitas kain, kenyamanan pemakai, daya tahan produk, hingga efisiensi produksi. Banyak pelaku konveksi dan brand fashion masih keliru dalam memahami jenis benang dan cara membaca ukuran benang seperti 20s, 30s, 75D, atau 150D.
Artikel ini membahas secara lengkap jenis benang tekstil dan cara membaca ukuran benang berdasarkan standar industri, agar tidak salah tafsir dalam menentukan bahan tekstil untuk garment.
Secara umum, benang tekstil dibagi menjadi empat kategori utama: benang serat alam, benang semi sintetis, benang sintetis, dan benang campuran.
Benang serat alam berasal dari sumber alami seperti tumbuhan atau hewan, dengan proses pengolahan mekanis tanpa rekayasa kimia kompleks.
Contoh benang serat alam yang umum digunakan:
Benang cotton menjadi yang paling populer dalam industri garment karena nyaman, breathable, dan mudah diproses. Cotton sendiri memiliki banyak varian seperti Supima, Organic Cotton, BCI Cotton, Combed, Compact, Carded, hingga OE (Open End), yang masing-masing memengaruhi kehalusan, kekuatan, dan tampilan kain cotton berkualitas.
Benang semi sintetis berasal dari bahan alami berbasis selulosa seperti kayu atau bambu, yang diproses secara kimia hingga menjadi serat baru.
Jenis benang semi sintetis meliputi:
Benang ini dikenal sangat lembut, jatuh, dan nyaman, sehingga sering digunakan untuk pakaian kasual, fashion premium, hingga bahan tekstil untuk garment dengan konsep sustainable.
Benang sintetis dibuat dari polimer hasil turunan minyak bumi. Karakter utamanya adalah kuat, stabil, dan fungsional.
Contoh benang sintetis:
Benang sintetis banyak digunakan pada kain premium untuk sportswear dan activewear karena memiliki daya tahan tinggi, elastisitas baik, serta mendukung teknologi seperti quick dry dan UV protection.
Benang campuran adalah kombinasi dua atau lebih jenis serat dalam satu benang atau kain untuk mendapatkan karakter seimbang antara kenyamanan dan kekuatan.
Contoh benang campuran yang umum di industri:
Benang campuran menjadi solusi ideal untuk produksi kain custom karena lebih stabil, efisien, dan fleksibel secara fungsi.
Baca juga : Cara Menghitung Kebutuhan Rib Kaos dalam Produksi Garment
Selain jenis bahan, ukuran benang sangat menentukan karakter kain. Sistem ukuran benang berbeda antara benang serat staple dan benang filamen.
Ukuran benang cotton menggunakan sistem Ne (Number English).
Rumus:
Ne = panjang benang (yard) / berat (pound)
Contoh ukuran benang cotton:
Prinsip penting:
Semakin besar angka Ne, semakin halus benangnya.
Benang filamen seperti polyester dan nylon menggunakan sistem Denier (D).
Rumus:
Denier = berat (gram) / panjang benang (9000 meter)
Contoh ukuran:
Prinsipnya:
Semakin besar angka D, semakin tebal benangnya.
Masih banyak anggapan bahwa benang halus menghasilkan kain tipis dan mudah sobek, sedangkan benang tebal selalu lebih kuat. Faktanya, hal tersebut tidak sepenuhnya benar.
Kualitas kain ditentukan oleh kombinasi:
Setiap ukuran benang memiliki fungsi masing-masing sesuai kebutuhan desain dan tujuan pemakaian.
Memahami jenis benang dan cara membaca ukuran benang adalah fondasi penting dalam produksi kain dan garment. Dengan pemilihan benang yang tepat, kualitas kain dapat dikontrol secara lebih presisi, baik dari sisi kenyamanan, kekuatan, maupun tampilan akhir.
Sebagai supplier tekstil Indonesia, Mulia Lestari menghadirkan kain premium dengan pilihan benang cotton berkualitas, kain CVC, kain bamboo dan tencel, hingga produksi kain custom sesuai kebutuhan brand dan konveksi.
Bagi brand atau pabrik garment yang membutuhkan bahan tekstil untuk garment dengan spesifikasi tertentu, konsultasi pemilihan benang sejak awal akan membantu menghasilkan produk yang lebih optimal.
Baca Juga: Kain Nylon Mulia Lestari untuk Sportswear dan Activewear